Berani Pindah Rumah

hipsterlogogenerator_1468475815037

Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. Kalau pindah diidentikkan dengan kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang mengikutinya….. Padahal, untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan.

Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.

― Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon

Alhamdulillah. Hari ini, saya resmi menempati rumah baru. Rumah yang saya idam-idamkan sejak dua tahun yang lalu. Horay! Pas banget kan, pindahan di tanggal cantik 15 bulan 7 tahun 2016. (Dimana sih cantiknya? haha. Maksa)

Continue reading

Jus Tombu – Buavita ala Rewinnita


Buat saya, menu buka puasa itu harus ada pendamping minuman yang seger-seger. Tapi, karena saya lagi hamil – pilihan minuman yang segar pun terbatas. Nggak bisa minum sembarangan. Minuman seger yang dikonsumsi harus higienis sekaligus sehat.

Nah, kali ini… karena lagi hore-hore di rumah sendiri di Surabaya, saya eksperimen bikin jus yang segar sekaligus sehat, bersama Buavita. Kenapa Buavita? Karena, Buavita adalah jus yang terbuat dari buah asli, tidak seperti minuman rasa buah yang tidak mengandung buah. Buavita ini adalah produk minuman, dengan kandungan vitamin C, A, B1, B2, B3, B6 yang juga berguna untuk tubuh kita.  Jumlah kandungan vitamin nya pun telah disesuaikan dengan  kebutuhan tubuh dalam sehari.

6

 

Continue reading

Paru Goreng Basah Ala Rewinnita

Paru Goreng Basah Rewinnita

Hello, saya sekarang sudah berada di Surabaya. Kalau di Surabaya, berarti waktunya apa?? Yeah… waktunya eksperimen masak-memasak. Karena sudah liburan, saya punya banyak waktu untuk memasak dan menikmati hari-hari sebagai stay at home wife. Walaupun hanya…10 hari. Lumayan lah!

Masih dalam nuansa menjelang akhir Puasa Ramadhan. Hari ini, saya ekperimen bikin paru goreng basah. Paru goreng ini untuk lauk pendamping sayur asem saat buka puasa nanti. Suami doyan banget sama paru goreng jenis basah macam ini. Setiap pulang ke Cepu, pasti sasarannya makan pecel dengan lauk paru goreng. Kalau saya, nggak perlu pecel. Makan paru goreng sama nasi hangat aja udah berasa nikmaat bangeeett…

Continue reading

Dr.Wigih : Jerawat Kedua

facial1

Sudah dua bulan terakhir ini, muka saya jerawatan. Parah. Jerawat batu-batu merintis di area dahi yang super lebar ini. Biasanya, mrintis akan hilang dengan sendirinya. Tapi, ini beda.  Hilang satu, tumbuh seribu. Begitu terus. Kalau lagi keringetan, dahi rasanya kayak digigit semut. Clekit-clekit sakit nya sampai ke dasar jiwa. (haha, abaikan).

Lalu, apa kabar krim wajah? Krim sun block masih banyak, tapi sudah enam bulan ini saya abaikan. Males sangat. Sampai kadaluarsa bok. Jadi? Yes, muka telanjang tanpa sun block saat kerja semakin terbiasa. Apalagi saya tipe yang nggak suka pakai make up apapun. Bisa bayangkan muka ini kayak apa? Sudahlah, jangan dibayangkan. hehe. 

Sampai akhirnya kemarin di Surabaya, selesai mandi saya ngaca. Wow. Udah parah nih. Harus segera perawatan lagi. Setelah dapat ijin suami, saya pun meluncur ke Dr.Wigih (lagi).

Continue reading

Kontrol Kehamilan : Berlabuh ke MND Clinic

things-to-never-say-to-pregnant-woman

Ini sudah kelima kalinya saya berganti rumah sakit dan klinik dokter kandungan di Jakarta. Dimulai dari yang paling mahal sampai ke yang paling murah. Haha. Semuanya dicobain. Imbas dari jatah asuransi kantor untuk kontrol kehamilan yang sudah habis duluan.  Hehe. Karena sekarang harus bayar sendiri, jadi agenda petualang dari dokter satu ke dokter yang lain pun dimulai.

Kontrol kandungan kok coba-coba si Mom?

Mumpung lagi hamil, saya mau cobain semua dokter. Hehe. Pengen tahu bedanya apa sih. Dari yang sangat amat ramah, sampai yang sangat amat jutek. Ada harga ada service ya Bos. Klise. Yang paling mahal, dapet dokter yang paling ramah. Dan yang paling murah, dapet dokter yang super jutek. (masih ada ya dokter jutek? anggap aja, dokternya lagi PMS dan saya apes.haha). Haha.

Tapi dimanapun kontrolnya, secara hasil analisa kontrol kehamilannya sih sama aja. Informasi yang nyampe di saya, intinya sama. Hasil USG juga sama. Sama semua deh pokoknya. Atau kebetulan saya aja yang dapet hasilnya sama?

Continue reading

Mengatur Anggaran Rumah Tangga untuk Pasangan Long Distance Marriage

HusbandWifeMoney

Sejak menerima kenyataan bahwa status saya sekarang sudah menjadi ibu rumah tangga, saya mulai memikirkan dengan amat sangat mengenai anggaran rumah tangga. Terlebih, posisi saya dan suami sedang berjauhan. Ya, kami sedang menjalani apa yang bahasa kerennya disebut Long Distance Marriage. Ini bikin kami semakin sregep cari cara biar sirkulasi keuangan tetap aman terkendali.

LONG-DISTANCE-MARRIAGE

gambar diambil dari sini

Jelas. Pasangan jarak jauh tentu memiliki prioritas keuangan yang berbeda dengan mereka yang berumah tangga dalam satu rumah. Itu juga kembali lagi, di kota mana suami dan istri tinggal. Karena kebutuhan sehari-hari di setiap kota itu berbeda. Mungkin saja, pengeluaran untuk pasangan Long Distance Marriage ini akan lebih besar.

Mungkin saja.

Well.

Tapi kenyataannya, bisa jadi sama saja dengan pasangan yang tinggal satu rumah. Haha. Yah, kata orang Jawa – sawang sinawang lah ya. Kembali lagi ke gaya hidup. Meskipun jauh-jauhan, tapi kalau gaya hidupnya sederhana & down to earth, tetap bisa nabung kok. Percaya deh!

Continue reading

Sahur Pakai Abon-nya Bu Sarti Padmosusastro


Hai Guys…

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan ya. Semoga puasa tahun ini bisa membawa hikmah dan berkah bagi kita semua. Amin.

Setiap bulan puasa saya jadi ingat jaman masih nge-kos dulu. Setiap kali sahur selalu sedia abon di kosan. Ya, karena abon ini paling praktis, enak dan hemat. Abon jadi penyelamat perut, apalagi saat belum gajian. haha. Tapi, meski hemat tetap bergizi lho, kan abon nya dari daging sapi. hehe.

Saat itu – sebelum tidur, saya biasanya masak nasi menggunakan rice cooker. Saat sahur tiba, sambil merem tuang abon di atas nasi trus makan deh! Nyam-nyam. Kenyang. Solat subuh lalu tidur lagi.

Nah, sekarang saya pengin nostalgia menikmati santap sahur pakai abon. Ehm. Santap sarapan lebih tepatnya. (Maaf, karena kondisi lagi hamil – selama dua hari ini saya belum berpuasa). Karena lagi pengen banget, saya nitip suami di Surabaya untuk mencarikan abon yang dulu saya makan saat masih ngekos. Dan akhirnya ketemu. Pas ada temen lagi nitip abon juga. Ya udah sekalian aja beli banyak.

abon2

Abon nya ini spesial, karena khas dari Surabaya. Emang Surabaya punya abon?? Lho..lho… Jangan salah, Surabaya punya abon legend yang sudah terkenal kelezatannya dari 19 tahun yang lalu lho. Olahan daging sapi ini bisa ditemukan di sepanjang jalan Padmosusastro. Ancer-ancer nya ada di dekat Gelora Pancasila, tembusan mall Sutos (Surabaya Town Square) ke arah jalan Darmo. Lebih lengkapnya bisa cek di Google Map. Hehe.

Di sepanjang jalan Padmosusastro ini, mayoritas warga menjual abon daging sapi. Tempatnya seperti rumah biasa, dan sangat-sangat sederhana. Abon daging sapi di tempat ini memang unik karena toko yang digunakan untuk  berjualan, memiliki multifungsi sebagai dapur untuk membuat abon daging sapi juga. Jadi saat membeli abon, kita bisa melihat proses pembuatannya secara langsung.

Meski sederhana, cita Rasa abon sapi di sepanjang jalan Padmosusastro ini sudah menggema dimana-mana. TOP banget. Bahkan sudah jadi icon oleh-oleh Surabaya yang wajib dibawa pulang oleh pendatang.

Dari sekian banyak, ada satu merk abon yang sangat saya gemari yaitu Abon Daging Sapi Bu Sarti. Pembeda dengan abon lainnya, Abon Bu Sarti memiliki ciri khas tekstur abon yang gurih dan crispy. Terasa kress..saat dikunyah. Rasanya gurih, manis, dan cocok banget disantap bersama nasi hangat yang mengepul. Dibuat cemilan juga enak. Aduhai..

abon6

 

Buat kamu yang suka pedas, abon Bu Sarti juga menyediakan varian rasa Pedas. Pedasnya pas di lidah, Nggak bikin meradang. Hihi.  Saya berani cerita karena sudah coba sendiri dan jadi pelanggan setia dari Abon Bu Sarti ini.

Abon kemasan ini dijual dalam tiga pilihan, yaitu abon sapi berat 100 gram, abon sapi berat 250 gram, dan abon sapi berat 500 gram. Sekali lagi, hanya ada dua varian rasa, manis dan pedas. Karena fresh from the oven, abon bu Sarti dijamin selalu baru setiap hari dan bisa tahan selama 6 bulan sejak tanggal produksi.

Buat temen-temen yang jauh dari Surabaya, kita bisa sediakan abon Bu Sarti dan langsung kirim dimanapun kalian Berada. Sebagai warga yang ingin melestarikan buah tangan kota tercinta ini, kita kasih harga murah meriah. Ada potongan harga khusus untuk yang mau beli borongan. Tertarik? Silahkan hubungi nomor dibawah ini.

0877.5969.9059 – via WA / SMS / telegram aja ya 

Buat kamu yang lagi di Surabaya, jangan lupa mampir ke Jalan Padmosusastro. Abon Daging Sapi Bu Sarti sudah menunggu~~~~

Harga Abon Daging Sapi Bu Sarti (Eceran):

5Berat 100 gram                    : IDR.28.000,-

Berat 250 gram                    : IDR.60.000,-

Berat 500 gram                    : IDR.110.000,-

Expired Date                        : 6 bulan setelah tanggal produksi

Kemasan                              : Plastik dengan lambang sapi dan ada logo Bu Sarti

Pengiriman                       : JNE/TIKI/Gojek

 

NB : 

Untuk pembelian abon Bu Sarti, juga bisa dilakukan di lapak ane gan… 

  1. Tokopedia
  2. Bukalapak
  3. OLX

Gathering : Moment Pertama New Born Baby Bersama Pampers


Semakin berkembangnya zaman, para orang tua modern sudah merasa sangat dibantu dengan penggunaan diaper atau popok bayi sekali pakai. Karena mereka tidak perlu bersusah payah untuk mencuci dan menjemur tumpukan popok bayi seperti pada masa orang-orang tua mereka dulu. Ya, sekali pakai bisa lansung dibuang.

Di Amerika, tercatat hampir semua keluarga yang memiliki bayi menggunakan disposable diaper ini. Di Asia Tenggara sendiri, pada tahun 2015 penjualan popok bayi melampaui US$ 29 miliar atau setara dengan Rp 413 triliun dengan kurs di kisaran Rp 14.200. Data tersebut dilontarkan oleh perusahaan riset Nielsen yang telah melakukan survei online di 60 negara kepada konsumen yang telah membeli produk perawatan bayi dalam lima tahun terakhir.

Ini menunjukkan, popok sudah menjadi kebutuhan penting untuk bayi dan keluarga. Namun ada sebagian ibu yang menilai popok sekali pakai kurang aman untuk kulit bayi. Kulit bayi yang sensitif terkadang tidak cocok dengan popok yang digunakan. Popok yang tidak cocok dengan kulit bayi yang sensitif dapat menyebabkan timbulnya ruam terlebih untuk bayi yang baru lahir.

Continue reading

Cicip Kilau Emas di Pegadaian

pegadaian3

Emas memang tidak melulu perhiasan. Buat kita yang tidak suka perhiasan, bisa mengambil alternative membeli emas batangan. Tapi kembali lagi, saya pun pada dasarnya tidak hobi dengan emas-emas an, apapun bentuknya. Kecuali si e mas suami. Ahay.

Tapi setelah saya pikir-pikir memang tidak ada ruginya memiliki emas. Nilai emas lebih stabil, karena tidak tergerus inflasi seperti kita menabung di bank. Yang pasti, harus jelas tujuannya. Misal, mengumpulkan emas untuk disimpan selama 5 tahun, dan setelahnya akan dijual untuk keperluan anak sekolah. Selain itu, dalam keadaaan darurat, (berdasarkan pengalaman ibu saya) emas lebih mudah dan ringkas untuk dibawa lalu bisa dijual seketika.

Cuma memang harus agak hati-hati dalam menyimpan emas ini. Butuh perhatian ekstra. Ini nih yang bikin saya MALES.

Sebenarnya agak lama sampai saya memutuskan benar-benar akan membeli emas. Tiga hal yang membuat saya berpikir panjang adalah :

  1. Karena untuk investasi, apakah emas ini bisa benar-benar menguntungkan?
  2. Beli emas yang nggak pakai ribet, beli dimana ya?
  3. Kalau jadi beli, Si emas ini mau disimpan dimana?

Continue reading

Ganti Micin dengan Gula!


Dulu waktu jaman SD, setiap kali saya masak sendiri, micin selalu nggak pernah absen dimasukin di dalemnya. Maunya buat eksperimen. Dan, karena rasanya unik, jadi saya suka-suka aja tanpa tahu efek dari micin itu apa. Oh My…

Entah sudah sejak kapan, saya nggak lagi pernah memakai micin di rumah. Jaman SMA mungkin. Ya, karena ibu saya juga nggak nyedia-in micin lagi di rumah. Hoho. Penting kan peran dari ibu? Kalau ibu sudah stop, satu rumah ikutan stop deh. Apapun itu.

Ya. ya. ya.

Micin atau Monosodium Glutamate adalah zat penambah rasa pada makanan yang dibuat dari hasil frementasi zat tepung dan tetes dari gula beet / gula tebu. Ketika MSG ditambahkan pada makanan, dia memberikan fungsi yang sama seperti Glutamate yaitu memberikan rasa sedap pada makanan. MSG sendiri terdiri dari air, sodium dan Glutamate.

Saya tahu. Hampir nggak ada makanan yang available dijual di warung-warung, restoran, atau manapun sekarang bisa bebas dari micin. Saya paham sekali. Tapi minimal, meminimalisir pemakaian micin di masakan sendiri, boleh dong? bisa dong?

Resep rahasia kenapa ibu bisa masak enak? Ciyehh… ibu saya bisa masak lho bro! Suwer! Masakan apapun so pasti yummy. Tanpa micin. Kadang juga masaknya campur aduk, entah apa yang dimasukin. Tapi bisa tetep lezat tanpa micin sama sekali. Rahasianya?? Ya selain tangan-tangan nya ahli, juga karena pemakaian gula. Bumbu masakan intinya cuma garem sama gula toh cuy.

“Kalau mau enak, main-main aja di pemakaian gula-nya. Nek kowe pancen bakat, masak opo wae mesti enak. Ra usah ngganggo micin.”, begitu kata ibu saya. Ibu nggak pernah pakai micin di rumah. Begitu juga saya. Sumprit, saya nggak pernah masak sendiri pakai taburan micin se-butir pun.

Jika digunakan secara berlebihan, micin mempunyai efek negatif terhadap tubuh. 12 gram MSG per hari dapat menimbulkan gangguan lambung, gangguan tidur serta mual2. Bahkan beberapa orang ada yang mengalami reaksi alergi berupa gatal, mual dan panas. Tidak hanya itu saja, MSG juga dapat memicu hipertensi, asma, kanker serta diabetes, kelumpuhan serta penurunan kecerdasan.

Tuh..kebanyakan micin bisa bikin tambah tulalit lho. Bahaya kan? Apalagi saya perempuan, dan suatu saat akan menjadi ibu (amin). Saya nggak mau dong, kalau anak saya nanti tulalit hanya karena mengonsumsi micin. Oh No.

Gula sama micin kan asalnya sama-sama dari tebu. Gula dari air tebu nya, micin dari ampas tebu nya. Kalo dilogika, karena bahan dasarnya sama, ya mending pake gula dong daripada micin. Jadi, hidup micin! Eh..hidup Gula..!